Judul diatas mungkin terlalu naïf bila dianggap sebagai judgement belaka. Tapi lihatlah belakangan ini, berita di Media Cetak dan Elektronik kini malah dipenuhi dengan aksi “supporter” yang reaktif bahkan cenderung anarkis. Bukannya konsentrasi mendukung tim kesayangannya, tapi kini malah terkesan ingin menunjukkan eksistensi keberadaan kelompoknya dan terlalu reaktif dalam menjaga identitas kelompoknya. Lagu-lagu, spanduk dan bahkan kaos-kaos kini dipergunakan untuk ajang menghujat kelompok suporter lain dan hal tersebut jauh dari tujuan awal yaitu mendukung dan memompa semangat klub yang didukungnya.
Sebenarnya kalau kita mau menoleh sejenak ke belakang, kita boleh introspeksi apakah keadaan sekarang ini sangat diidamkan oleh para suporter? Tenangkah kita kalau akan mendukung selalu dibayangi kemungkinan cekal atau penghadangan dari kelompok suporter lain? Apakah kita datang ke stadion tujuannya untuk memompa semangat klub kesayangan kita atau hanya sekedar melampiaskan emosi dengan menghujat kelompok suporter lain? Atau nyamankah kita kalau energy kita hanya dihabiskan untuk mengurusi dendam dan emosi membara ke suporter lain??
Kalau perlu kita sejenak dapat membuka kembali, cerita dan berita tentang tonggak sejarah suporter yang kreatif dan sportif yang pada saat awal tahun 2000’an. Pada tahun tersebut energy positif suporter bergaung kencang dengan diawali dengan aksi suporter Aremania yang sanggup mengundang decak kagum para pemirsa dengan lagu dan aksi-aksi gerakan ala suporter latin, kemudian ditularkan kepada Jakmania, Pasoepati, Slemania dll. Tahun tersebut terkenal dengan era persahabatan antar suporter, masing-masing kelompok suporter dapat dengan tangan terbuka dan menyediakan kuota bagi kelompok suporter lain.
Sebenarnya kalau mau jujur, kelompok atau fans club itu dibentuk untuk mendukung dan memompa semangat pemain yang berlaga di lapangan atau bahkan ada julukan bahwa suporter itu adalah pemain ke-12. Selain hal tersebut suporter juga sangat diharapkan kehadirannya di stadion untuk membantu keuangan klub dengan cara membeli tiket masuk, membeli merchandise klub atau bahkan sukarela mengumpulkan dana untuk keuangan klub yang sedang kurang baik.
Satu hal yang juga sangat penting yaitu, bahwa suporter datang ke stadion wajib siap mental untuk tetap semangat fair play mendukung klub kesayangannya dalam keadaan apapun baik itu menang, imbang maupun kalah. Para koordinator suporter diharapkan juga sedini mungkin menghindarkan lagu-lagu provokatif yang cenderung SARA atau bahkan bernada umpatan kasar. Eksistensi suporter bukan dilihat dari banyaknya atau kenekatannya dalam mendukung klub kesayangan, tapi wajib menjaga agar eksistensi jangan berlebihan kearah yang negatif bagi klub sehingga berujung hukuman baik denda maupun larangan menonton.
Suporter wajib berperan nyata dalam kemajuan klub dan merupakan bagian yang positif bagi perkembangan klub yang didukungnya. Tanamkan paradigma bahwa suporter yang mendukung dengan tujuan positif pasti hasilnya positif, dan jauhi kesan menang dengan cara menghalalkan segala cara, karena hal tersebut pasti akan memantik tindakan balasan yang serupa dari pihak lain dan dapat menimbulkan korban-korban tidak bersalah yang tidak tahu akan kasus sebenarnya.
Saya yakin kalau kita semua tidak ingin, Sepakbola Nasional ini menjadi salah satu pemicu retaknya hubungan harmonis antar daerah akibat fanatisme berlebihan suporter, dan atas dasar tersebut kalau boleh meminjam slogan iklan yang akrab di layar televisi, mungkin ini pas juga kalau kita teriakkan kearah suporter kita.. ”Ayo arahkan energy positif kita hanya untuk klub dan jangan sampai kita para suporter dicap dengan slogan iklan.. kalau mau eksis jangan lebay pliss…!!”
Ditulis oleh Panji Kartiko
dicari dengan kata kunci
- Saran mengenai tingkah laku suporter sepakbola indonesia
- legenda tentang lebay
- perilaku suporter
- slogan sportivitas tournament
- SARAN UNTUK suporter piala dunia 2010
- saran untuk suporter piala dunia
- judul lagu suporter
- judul lagu suporter yang ada di dunia
- judul lagu suporter mu
- suporter bukan tanggung jawab klub pemain
Related posts:
- Otokritik Bagi Suporter (Renungan Sumpah Pemuda) Saya pernah merenung bahwa hadirnya kelompok suporter sepakbola di...
- Perlukah Pendidikan Suporter? Redam Primodialisme Oleh : FX Triyas Hadi Prihantoro Paham...
- Selama mereka masih di PSSI JANGAN HARAP Indonesia Bisa ke Piala Dunia Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan...
- Ring Back Tone Suporter Tiga kelompok suporter di Indonesia, Viking, Aremania dan The...
- Ideologi Suporter Sepakbola Kamu pasti pernah tahu kan gimana aksi-aksi suporter sepakbola...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.





Aku yakin klub juga harus tanggung jawab moral, bukan secara real. Tak ada klub di dunia yang punya keterikatan resmi dengan suporter (ada pengurus klub yang kerja nangani suporter atau pengurus suporter punya ruang kerja di klub).
Tapi klub di Indonesia nyaris ga pernah mengeluarkan pernyataan, nasehat atau saran agar perilaku suporternya berubah. Satu contoh terbaru bisa ditiru dari Alex Ferguson yg meminta fans MU untuk tidak lagi melecehkan pelatih Arsene Wenger melalui lagu-lagu atau bentuk apapun.
hedi´s last blog ..Bonek (2)