Begitu megahnya, rumah raksasa yang namanya panggung PSSI. Begitu dasyatnya kursi yang namanya kursi ketua umum PSSI. Begitu tergila-gilanya masyarakat bola menggilai cabang yang satu ini. Dan, begitu kokohnya Nurdin mempertahankan kedudukannya di posisi itu. Karena, hanya panggung itu yang membuat dirinya begitu terkenal. Weleh-weleh begitu ambisinya bagi Nurdin untuk tetap duduk di posisi yang sangat menggiurkan tersebut.
Apapun yang akan dipestakan dalam Kongres Sepak Bola Indonesia di Malang,30-31 Maret nanti. Pokok masalahnya, ujung-ujungnya hanya satu tekad, yaitu menggusur yang namanya Nurdin Halid dari kursi ‘megah’ di PSSI. Isyarat tersebut, setelah SBY sebagai presiden melihat, mendengar dan menganalisis dan ada rasa keprihatinanyang sanngat mendalam, menengok prestasi tim nasional Indonesia.
Harus diakui, bahwa puncak prestasi sepak bola di mana saja, di negara dan benua mana saja. Yang paling utama, intinya adalah prestasi tim nasional. Namun, untuk mendapatkan tim nasional yang kokoh, solid dan ditakuti, membutuhkan banyak perangkat. Salah satunya, adalah konsep pembinaan yang berkesinambungan dalam membangun kompetisi, plus sedikit keberuntungan. Itu pun, juga terbiasa dilakukan oleh semua negara yang ingin melihat sepak bola, sebagai sesuatu yang sangat berharga, dalam pergaulan politik internasional.
Konsep pembinaan sepak bola, hampir di semua negara anggota FIFA, sepertinya sudah standart. Yaitu membangun kompetisi usia dini dengan teratur, terkonsep dan terpadu (Usia 13 – 19 tahun). Kondisi seperti di Indonesia, banyak kendala, yaitu karena negara Indonesia itu negara kepulauan. Artinya, dibutuhkan kiat-kiat yang efisien dan efektif, tapi bisa menghasilkan talenta-talenta bintang lapangan hijau hanya fokus daam area yang tidak makan biaya mahal.
Setelah mendapatkan formula yang jenius, untuk membangun kompetisi-kompetisi lokal, maka perlu ada wadah yang dulu pernah hidup (kini seolah-olah mati), yaitu Diklat (pendidikan dan latihan) di kota-kota besar. Misalkan di Sumatera Medan dan Palembang. Di Jawa, Jakarta (Ragunan), Bandung, Semarang (Salatiga) dan Malang. Di Kalimantan, ada Diklat Bontang, di Sulawesi dibuatkan di Makassar dan Manado. Di Kawasan pula NTT dan NTB dipusatkan di Lombok, dan di Papua, dibuatkan tiga lokasi Jayapura, Sorong dan Timika.
Untuk membangun lokasi-lokasi diklat yang modern, permanen dan menghasilkan bibit-bibit unggul, dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Maka, karena pemerintah langsung turun gunung, seharusnya hanya membutuhkan instruksi (wajib) agar semua kepala daerah yang sudah ditunjuk, untuk mengeluarkan anggaran, agar para pemain yang sudah terpilih masuk diklat, bisa dipenuhi semua kebutuhan non-teknis (asrama, transportasi dan akomodasi). Namun, kebutuhan teknis (ilmu sepak bola) wajib dipenuhi oleh lembaga PSSI.
Hampir di semua negara maju, sistem tersebut di atas, karena ada goodwill dari pemerintah. Kalau hanya itu urusan PSSI, maka siapa saja yang duduk di kursi paling empuk tersebut, akan kesulitan menghadapi semua manejemen pembinaan sepak bola. Saat ini, Nurdin Halid yang sangat ‘licin’ tersebut, sering mendengungkan sistem pembinaan tersebut. Tapi, nyatanya hanya sebatas dibibir doang, alias hanya ngomong terus menerus tapi tidak ada action. Kebetulan, diperparah oleh semua perangkat anggota PSSI, yang juga kebetulan memang tak punya wawasan manajemen sepak bola, dan sekaligus tak punya niat dan tak punya integritas yang baik, sepanjang kepemimpinan Nurdin Halid sejak 2003 hingga saat ini. Karena, muaranya berangkat dalam membangun manajemen dengan cara-cara yang sangat ‘kotor dan licik’.
Salah satu yang paling menonjol dalam kepemimpinan Nurdin Halid saat ini, yaitu dibangun dalam landasan yang sangat keropos. Karena, saat Kongres PSSI 2003 tersebut, Nurdin Halid melakukan cara-acara yang sangat kotor dalam jual beli suara, sehingga bisa mengalahkan Jacob Nua Wea (waktu itu Menteri Tenaga Kerja) Dalam dekade apa pun di sepak bola, jarang ada menteri kalah dalam pemungutan suara. Saat ada ‘penunjukan terselubung’ dari presiden, maka dialah yang terpilih, itulah sejarah semua ketua umum PSSI. Dan, kemudian dilanjutkan dengan permainan kata-kata yang super manis dari mulut Nurdin, untuk ‘memplintir’ Kongres 2007 di Makassar hanya dalam satu hari, menggelontorkan Kongres dengan aklamasi, memilih kembali Nurdin Halid. Inilah prestasi Nurdin Halid, dalam perjalanan sejarah sepak bola Indonesia.
Dan, puncak bobroknya kepengurusan Nurdin Halid, adalah prestasi sepak bola tim nasional yang tidak memiliki prestasi apa pun (walaupun Piala Presiden di Jakarta juara, namun akibat ada kekotoran dalam event internasional). Makanya, prestasi tersebut tidak masuk dalam daftar prestasi tim nasional. Semue event SEA Games (U-23) semuanya gagal tak pernah meraih medali walaupun perunggu pun, dari 2003, 2005, 2007, 2009). Pra Piala Dunia 2010 paling memalukan, karena sudah gugur di babak kualifikasi grup Asia. Padahal, biasanya Indonesia bisa masuk dalam grup Asia. Serta Piala Asia yang sudah jadi langganan PSSI sejak 1996 juga hilang diserobot Australia. Dan, saat event usia muda digulirkan AFC dan FIFA di semua benua, Indonesia juga masih belum banyak bicara di U-19 tahun 2009 lalu. Artinya, Nurdin Halid benar-benar selalu dapat “balak kosong’ alias jeblok.
Kondisi seperti inilah yang membuat SBY gerah, resah dan prihatin. Sehingga, harus mengeluarkan kata-kata perlu ada KONGRES dalam sepak bola nasional kita. Dan, bututnya PWI Pusat, bersama KONI Pusat dan lembaga Menpora untuk menawarkan gagasan, agar di tubuh sepak bola nasional perlu ada penyegaran. Kalau, tidak mau dikatakan ‘penggusuran’ secara menyeluruh.
Sejak bergulir 8 Januari lalu, seperti bola panas dalam tubuh sepak bola nasional, sudah tidk bisa dibendung. Kiat-kiat Nurdin Halid membendung kekuatan para wartawan sepak bola Indonesia, sepertinya tinggal menunggu detik-detik terakhir runtuhnya regim Nurdin Halid. Puncaknya, GONG gerakan Kongres Sepak Bola Indonesia, yang kan digelar di Malang nanti, memang sebuah sejarah yang akan mencatat perjalanan seorang ketua umum yang diruntuhkan dengan cara-cara yang brilian, sekaligus memalukan. Karena, seolah-olah Nurdin Halid ini adalah sebuah ‘gurita yang super raksasa’ yang tenggelam lewat instruksi presiden kita, SBY.
Berhenti atau Berjalan
Yang menjadi persoalan, adalah seandainya Nurdin Halid dan kepengurusan digusur, dan kemudian harus ada pemimpin yang baru. Maka, ada masa jedah yang perlu dicarikan solusinya. Mengingat, ada dampak yang juga sama-sama serius untuk tetap ditanggulangi. Yaitu, semua yang terkait dengan sepak bola itu sendiri.
Salah satu yang sangat penting, adalah masalah ofisial tim yang terkait dalam kompetisi yang selama ini sudah bergulir. Mereka, perlu diberi wejangan agar berhenti atau tetap berjalan, dengan ‘nahkoda sementara’. Semua SDM yang terkait dengan masalah ini. Mungkin para panitia Kongres Sepak Bola Indonesia, sedang fokus menggarap pesta akbar di Malang. Namun, perlu juga memikirkan dampak dari akibat keputusan yang akan di-gol-kan nanti di Malang.
Para ofisial dari semua tim Super Liga Indonesia, Divisi Utama, Divisi I, II dan III ini perlu makan. Mereka semua punya keluarga, mereka semua punya tanggungan nafkah yang perlu kepastian.Yang terkait dengan unsure ofisial, seperti panitia pertandingan, dan juga pencinta bola yang tergabung dalam supporter-suporter juga membutuhkan adrenalin yang tidak bisa diputus begitu saja. Semuanya, harus dipikirkan dan dicarikan jalan keluarnya, agar semuanya berjalan elegan dan cerdas.
Dan, salah satu unsur dalam kompetisi modern saat ini, masalah sponsorship juga menjadi masalah tersendiri. Artinya, semua sponsor yang terkait dengan manajemen PSSI, maupun semua sponsor yang terkait dan terikat kontrak dengan tim-tim yang ikut kompetisi, juga perlu dicarikan solusinya.
Ada perkembangan yang sangat menarik, dalam membangun manajemen tim yang ikut di kompetisi. Mereka-mereka sudah mendapat partner sponsor yang dari dulu tak pernah menyentuh sepak bola sebagai alat komunikasi para produk. Namun, saat ini produk-produk lokal sudah mencintai dan membangun kerjasama dengan tim-tim, seperti Persib Bandung, Persebaya Surabaya atau Arema Malang.
Dan, nyaris semua produk pemda setempat semuanya mewabah menjadi sponsor tim-tim di semua kompetisi. Misalkan, Bank DKI sponsor Persija Jakarta, Bank Papua lebih banyak lagi mengeluarkan anggaran, karena nyaris semua tim Papua, disponsori Bank Papua. Persipura Jayapura, Perseman Manokwari, Persiwa Wamena, Persis Sorong dan mungkin Persiram Raja Ampat.
Dan, yang terkait dengan sepak bola, tapi juga dampak implikasi yang tidak sedikit adalah televisi yang membeli hak siar kompetisi, yaitu ANTV. Manajemen televisi nyaris sama rumitnya dengan kompetisi itu sendiri. Selain terikat kontrak dengan Badan Liga Indonesia (BLI), pihak manajemen ANTV juga terikat dengan semua klub (membayar royalti), dan dipastikan terikat kontrak dengan para sponsor yang ingin memamerkan produk-produknya di telivisi selama siaran langsung.
Artinya, ada sebuah pengorbanan yang tidak main-main, dalam mengambil keputusan di Kongres Sepak Bola Indonesia. Walaupun, saat ini pihak panitia KONGRES sudah memikirkan semua dampak-dampaknya. Namun, panitia ‘penggusur’ Nurdin Halid pasti belum pernah merasakan apa yang sebenarnya nanti akan terjadi, saat pasca penggusuran kepengurusan PSSI. Ibaratnya, kalau ada tsunami semua sudah siap-siap, walaupun semua siap akan ada kehancuran. Namun, setelah tsunami sebetulnya ada masalah yang sama beratnya dengan saat ada tsunami terjadi.
Apakah panitia Kongres, memutuskan semua yang terjadi di luar manajemen PSSI tetap bisa dijalankan, atau justru berhenti sejenak dalam waktu yang belum bisa ditentukan nasibnya?
Ini masalah seolah-olah ringan, namun sebetulnya sangat pelik. Karena menyangkut masalah hajat hidup orang banyak. Diperkirakan, punya dampak terhadap sekitar 30 juta orang yang secara langsung atau tidak langsung ada di lingkungan sepak bola nasional, termasuk pirsawan televisi yang terbiasa nonton asyik di rumahnya. Ya, kalau dinilai, bisa beda-beda tipis dengan peristiwa kasus Bank Century.
Saran saya, jangan sekali-kali peristiwa Kongres Sepak Bola Indonesia ini, dijadikan lahan proyek bagi segelintir panitia. Atau juga jangan dijadikan tameng kepada lembaga-lembaga terkait, sebagai ‘pahlawan’ di siang bolong. Namun, bagi PSSI juga jangan peristiwa Kongres di Malang, sebagai hukuman atau tamparan yang menyakitkan. Tak ada gading yang tak retak, demikian kira-kira pematah yang sangat nyaman sebagai insan manusia yang hidup dalam ragam sosial bangsa Indonesia ini. Ayo, bangun…bangun, dan bangkit kembali.
Siapa Yang Pantas
Jika, analisis saya akan ada kepengurusan baru, untuk menggantikan regim Nurdin Halid. Maka, kuncinya lagi, perlu ada panitia yang sudah wanti-wanti untuk mengantisipasi para calon pemimpin baru, sebagai ketua umum PSSI. Ini sangat penting, buat ending bagi semua yang terlibat dalam kepanitiaan KONGRES. Persoalan action penggusuran Nurdin Halid, juga wajib dipikirkan untuk segera memikirkan penggantinya. Ini hal biasa dalam organisasi, apalagi organisasi PSSI itu ibarat kapal super raksasa. Maka, siapa saja yang jadi nahkoda, juga adalah orang-orang yang terbiasa mengelola menejemen raksasa.
Pilihan saya di fesbuk ini, bukan urutan abjad atau urutan yang subyektif dari gaya saya. Semuanya, akan saya bedah dari sisi positif dan negatifnya, sebatas pengetahuan saya mengenal dari jauh semua sosok-sosok yang akan saya coba beberkan. Semuanya, tergantung dari floor, jika Nurdin Halid sudah lengser, tentunya.
E.E. Mangindaan
Evert Erenst Mangindaan, yang dikenal jadi EE Mangindaan, adalah orang yang tidak sebentar mengenal seluk beluk sepak bola nasional. Bapaknya, E.A Mangindaan adalah salah satu pendiri PSSI tahun 1930 bersama Ir. Suratin, sebagai alat perjuangan kemerdekaan RI. Dan, selama menjadi orang terkenal, EE Mangindaan tidak pernah jauh dari sepak bola. Terakhir, setelah pensiun sebagai jendral berbintang tiga (Pangdam VIII Trikora) 1991-1993, Mangindaan yang terlibat langsung membesarkan Persma Manado masuk jajaran tim elit, saat menjadi Gubernur Sulawesi Utara 1995-2000.
Dalam tiga musim terakhir di level pemerintahan (anggota MPR RI 2000-2004, DPR 2004-2009, dan kemudian masuk kabinet Indonesia Bersatu jilid 2, Mangindaan juga selalu menjadi salah satu favorit calon ketua umum PSSI, sejak ada Anzar Anaz, Agum Gumelar dan Nurdin Halid. Dan, puncaknya di 2003, sepertinya EE Mangindaan akan menggantikan Agum Gumelar. Namun, ternyata di tikungan Mangindaan mundur, setelah Sumaryoto, Nurdin Halid dan Jacob Nua Wea melanjutkan peperangan meraih kursi ketua umum PSSI 2003 – 2007.
Kini, setelah mendapat jabatan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (MenPAN), yang lahir di Solo, 5 Januari 1943 ini, seharusnya menjadi salah satu kandidat menggantikan Nurdin Halid. Dalam sejarah ketua umum PSSI, presidennya selalu memberi tempat kepada pembantunya (biasanya menteri), untuk mengisi kursi olahraga terpopuler di kolong langit ini. Dan, biasanya calon lawan-lawannya minder dan mundur sebelum head to head, seperti peristiwa terpilihnya Ali Sadikin (Gubernur DKI Jakarta), Bardonoso (Sekretaris Militer Presiden), Kardono (Sekretaris Militer Presiden), Azwar Anas (Menteri Perhubungan dan Menko Kesra) dan Agum Gumelar (Menteri Perhubungan).
Dari sisi manajemen, seharusnya Mangindaan yang pernah jadi pangdam, gubernur dan dosen (jadi Komandan Sekolah Angkatan Darat), seharusnya semua ilmu-ilmunya bisa diterapkan di manajemen sepak bola nasional. Namun, karena sepak bola modern, membutuhkan kiat-kiat kreatif, maka Mangindaan jika terpilih harus memberi orang-orang muda, kreatif dan juga orang-orang yang pinter mengolah dan menciptakan program mendapatkan sponshorship. Sosoknya, sebagai menteri cukup sebatas mengarahkan dan memberi jalan kepada anggotanya, agar cara-cara mendapatkan partner sponsorship dilakukan secara elegan dan nyaman. Posisinya sebagai menteri, sepertinya sangat pantas menjadi kandidat, apalagi kedekatan Mangindaan dengan SBY, tak perlu diperdebatkan lagi, karena Mangindaan dibina dan membesarkan partai Demokrat.
Dari sisi pengetahuan sepak bola, Mangindaan junior, sebetulnya banyak belajar dari bapaknya, E.A . Mangindan yang pernah juga menjadi pelatih tim nasional Indonesia 1966 – 1970, setelah menggantikan ‘bapak sepak bola Indonesia’ Tony Pogacnik 1954 – 1964. Ilmu-ilmu taktik dan strategi bapaknya, sepertinya menjadi makanan sehari-hari bagi EE Mangindaan di waktu muda. Bahkan, di sekolah militer Magelang di jamannya, hanya ada 2 pemain tentara yang selalu terkenal di lingkungan Akabri, yaitu EE Mangindaan dan Agum Gumelar. Keduanya selang-seling membawa timnya juara antar angkatan dan antar jurusan.
Hatta Rajasa
Ketika Nurdin Halid, masuk penjara yang pertama akibat kasus korupsi akibat penyelundupan gula dan beras tahun 2005. Saya, pernah diajak M. Nigara (wartawan, dan sekarang menjadi direksi salah satu pengelola Gelora Senayan) untuk menghadap Hatta Rajasa, di jaman kepemimpinan SBY, saat itu menjadi menteri Perhubungan, agar bisa menggantikan Nurdin Halid.
Menurut Nigara, pria berambut ubanan itu, juga tidak asing dalam pengetahuan sepak bolanya. Dan, kebetulan masih menurut Nigara, bahwa Hatta Rajasa siap menjadi ketua umum PSSI, jika pihak anggotanya menghendaki adanya Kongres untuk menyelamatkan PSSI akibat ketuanya masuk bui. Namun, karena para anggota PSSI tidak menghendaki adanya kongres PSSI, maka nama Hatta Rajasa tidak jadi dimunculkan di permukaan.
Dari situlah, saya mencoba menawarkan sosok Hatta Rajasa, yang kini menjadi Menko Ekuin untuk menjadi salah satu kandidat dan pilihan masuk dalam bursa ketua umum PSSI, pasca tergusurnya Nurdin Halid.
Sebagai seorang ahli strategi, Hatta Rajasa rasa-rasanya tidak sulit jika nyemplung sebagai nahkoda PSSI. Selain, punya karakter yang kuat, juga punya ilmu disiplin yang elegan selama menjadi menteri, sejak di jaman Gus Dur, Megawati dan SBY saat ini. Pengalaman sebagai seorang pemimpin sudah teruji. Pengalaman membangun manajemen yang berdisiplin sudah terbukti. Dan, sosoknya bukan orang yang suka gembar-gembor, namun semuanya dijalankan secara terkonsep.
Ilmunya itu yang membuat, Hatta Rajasa bisa membangun sepak bola dari sisi pembinaan yang sinkronisasi. Sebagai seorang arsitek jebolan ITB, sepertinya ilmunya bisa diterapkan dalam manajemen sepak bola, dalam struktur bangunan yang benar dan efektif. Kini, sebagai seorang yang berkutat di bidang manajemen ekonomi, tidak sulit mendapatkan partner-pertner sponsorhip lokal maupun internasional.
Dan, Hatta Rajasa bisa memaksimalkan jabatannya untuk mendapatkan dana-dana abadi bagi perkembangan sepak bola nasional dalam tiga sampai lima periode bagi pembinaan usia muda, dan tentunya menguntungkan calon-calon pengganti Hatta Rajasa, jika sudah membangun blue print sistem pembinaan sepak bola nasional di masa depan.
Di pasca sepak bola modern ini, sebetulnya PSSI memang membutuhkan sosok Hatta Rajasa membangun konsep lima tahunan sepak bola nasional, dari sisi teknis maupun non-teknis. Karena, dalam membangun konsep tersebut membutuhkan dana yang sangat luar biasa. Diperkirakan, PSSI membutuhkan dana segar setiap tahun, sekitar 150 sampai 200 miliar, membangun pembinaan dan kompetisi usia dini, termasuk membangun infrastrukturnya.
Untuk mendapatkan dana tersebut, tidak bisa hanya dari kantong-kantong pribadi ketua umumnya, atau juga dari dana-dana pertemanan. Ini, butuh goodwill dari pemerintah, butuh perencanaan yang super mateng, dan butuh komitmen dari para pembantu-pembantunya Hatta Rajasa selama menjadi ketua umum PSSI. Dan, Hatta Rajasa diuntungkan saat ini menjadi kanidat kuat ketum PSSI, karena kedekatannya dengan SBY, dan posisinya sebagai Menko Ekuin. Kita membutuhkan jembatan dari sosok seperti Hatta rajasa, dari semua instruksi presiden, agar ada sinkronisasi yang berkesinambungan.
George Toisutta
Namanya sepertinya asing dalam kancah sepak bola nasional, sesuai dengan lunturnya tentara dalam kancah politik nasional. Namun, sebagai seorang militer dan didiki secara militer, ada banyak positifnya jika membangun manejemn olahraga. George Toisutta, yang kini menjadi Kepala Staff TNI Angkatan Darat (KSAD), sepertinya sudah diapungkan oleh desas-desus di lingkungan panitia KONGRES Sepak bola Indonesia, yang digelar di Malang nanti.
Menurut desas-desus, sosoknya sebetulnya pencinta bola dan penggila bola. Selama di akademi militer Magelang, nama George juga salah satu pemain yang sangat disegani, karena skill-nya lumayan diantara para sekolah tentara tersebut. Dengan demikian, wawasan tentang sepak bola, tidak perlu diragunakan lagi. Pengalaman militer di semua posisi telah dilakoni dengan sukses, sehingga dalam hal manajemen, jendral berbintang empat ini tak perlu diragukan lagi.
Banyak, ketua umum memiliki latar belakang militer, yang terakhir adalah Agum Gumelar. Namun, kelemahan George Toisutta sebetulnya hanya satu, yaitu justru jabatannya sebagai KSAD. Di saat meniti jabatan politik di militer, biasanya jabatan strategis itu hanya berlangsung dua tahun. Dan, jika usianya masih muda, maka masih memiliki kesempatan menjadi Panglima TNI.
Ada pengalaman banyak jendral di dalam kepengurusan olahraga. Dulu, jaman Tri Sutrisno menjadi KSAD, juga ditunjuk menjadi ketua PB PBSI, dan saat menjadi Pangab TNI, jabatanya di bulutangkis masih ada, namun sudah sangat super sibuk. Bisa-bisa hal tersebut akan mengganggu jabatannya, dan tingkat kesibukannya, sama seperti yang saat ini dialami oleh Djoko Santoso, yang juga saat ini Panglima TNI merangkat menjadi Ketua Umum PB PBSI.
PSSI, pasti akan terganggu jika ada ketua umumnya justru pindah jabatan, dari KSAD dan kemudian menjadi Pangab TNI. Jangan-jangan nanti George Toisutta diperebutkan oleh PB PBSI, karena wajib melanjutkan tradisi bulutangkis selalu dihuni KSAD ataupun Panglima TNI. Ketua Umum PSSI membutuhkan waktu lima tahun sekali, sementara jabatan KSAD hanya maksimal 3 tahun (tapi jarang).
Arifin Panigoro
Sosok yang satu ini, sering ‘malu-malu kucing’, jika tampil sebagai seorang pemimpin. Walaupun, prestasi bisnisnya, sudah membuktikan bahwa pemilik MEDCO ini, sebetulnya sudah super sukses membangun pundi-pundi dolarnya dalam mengeruk minyak di penjuru dunia. Walaupun, tahun 2009 lalu terpilih menjadi ketua umum PB Persatuan Golf Indonesia. Namun, jika di ‘paksa’ masuk sepak bola nasional, bukan tidak mungkin Pipin, panggilan akrabnya terjun bebas alias SIAP.
Tahun 2007, dalam pesta ulang tahunnya ke 61 (16 Maret 1945), saya diundang di acaranya di Hotel Melia Kuningan Jakarta, bersama Ronny Pattinasarany dan Bob Hippy. Dia bertutur, bahwa dia berwajah hitam, karena dirinya dari usia muda, tiap hari tidur di minyak hasil pengeboran perusahaan Grup MEDCO. Demikian candanya, weleh-weleh.
Namun, ujug-ujug Arifin Panigoro mengatakan bahwa, walaupun dirinya itu tiap mengeruk ladang minyak ke lading minyak di Indonesia, bukan berarti melulu mikirin kerajaan bisnisnya. “Dari lubuk hati yang paling dalam, saya sangat bangga dengan anak Indonesia yang satu ini, dia adalah Taufik Hidayat, yang telah mengharumkan nama bangsa Indonesia di level internasional, dengan meraih medali emas Olimpiade 2004, dan juara dunia 2005,” tutur Pipin.
Dilanjutkan oleh Pipin, “Karena itu, dia saya undang sebagai pribadi, dan bertepatan dengan ulang tahun saya ini, maka Taufik Hidayat saya hadiahi uang sebesar Rp 1 miliar, kebetulan tadi sekretaris saya bawa cek, maka saya kasih dalam bentuk cek,” demikian kata Arifin Panigoro, sambil memanggil Taufik Hidayat ke panggung megah dan mewah tersebut. Dan, saat itu juga semua undangan (separuh temen-2 bule Arifin) langsung berdiri memberi aplus yang luar biasa.
Sebelumnya, kira-kira bulan Januari 2007, karena posisi Nurdin Halid masih gonjang-ganjing, akibat kembali masuk penjara yang kedua kalinya. Masyarakat penggila bola, minta ada percepatan adanya Kongres PSSI, untuk mencari figur baru di sepak bola nasional. Saya diperkanalkan oleh saudara saya, Ipong Witono agar bisa merayu Arifin Panigoro untuk menggantikan Nurdin Halid.
Salah satu saran Arifin Panigoro, saya wajib membawa para mantan pemain dan beberapa wartawan senior untuk leyeh-leyeh di kediaman Arifin Panigoro, di Jenggala Jakarta Selatan, alasannya agar dapat wawasan dari mereka-mereka. Dan, saat itu tanggapan mantan pemain sangat serius, maka Ronny Pattinasarany, Risdianto, Sinyo Aliandu dan Bob Hippy bisa hadir, ditambah ada M. Nigara (Media Go) dan Yesayas Oktavianus (Kompas) bisa hadir di rumahnya Arifin.
Sebagai tuan rumah, dengan ‘malu-malu kucing’ itu, Arifin Panigoro ternyata sangat menguasai wawasan sepakbola, baik di sepak bola nasional maupun internasional. Dia bertutur, bahwa setiap dia terbang ke manca negara, ada yang selalu menjadi daya tariknya, yaitu melihat sepak bola dengan sangat dekat sekali. “Saya selalu bermimpi, jika Indonesia bisa seperti Brasil. Karena saat saya mendarat di Rio de Jenairo, di kanan kiri jalan dipenuhi lapangan bola, dan ribuan orang main bola tanpa lihat cuaca, pagi, siang, sore dan malam hari,” tegasnya.
“Saya ingin Indonesia itu bisa melahirkan banyak pemain berbakat, dan itu lahir dari kancah kompetisi usia muda. Kalau ini bisa dibangun serius, maka waktunya tidak lama, bisa 8 sampai 10 tahun ke depan, kita tak pernah kehabisan stok pemain untuk disumbangkan ke tim nasional,” demikian.
Dan, ketika didesak, apakan Anda siap menjadi orang nomor satu di PSSI, akhirnya Arifin Panigoro menyatakan siap, asalkan dengan cara-cara bersih dan elegan. “Saya tidak mau main money politic,” ujarnya. Namun, bersamaan dengan meredupnya peta gosip pengganti Nurdin Halid, maka Arifin Panigoro juga tak ngotot. Namun, karena dia sangat konsisten membangun pendidikan, maka lahirlah Piala Medco, yaitu turnamen sepak bola nasional – U-15, menggantikan kegiatan event PSSI, yaitu Piala Haornas hingga sampai hari in masih bergulir dan disponsori lembaga bisnis milik Arifin Panigoro.
Nirwan Dermawan Bakrie
Dia pernah mengaku jujur, bahwa sejak 1985 masuk di lingkungan sepak bola nasional, Nirwan Bakrie curhat, telah nyaris menghabiskan dana sebesar Rp 1 triliyun, namun tak pernah punya kebanggaan apa-apa. Nyaris dirinya frustasi, dan nyaris juga ingin meninggalkan sepak bola. Hanya, karena banyak teman-temannya yang merayu agar tetap di lingkungan sepak bola, akhirnya sampai hari ini sosoknya masih bercokol di PSSI, sebagai Wakil Ketua Umum PSSI.
Karakternya, mirip seperti Arifin Panigoro, sering selalu ‘malu-malu kucing’ jika diberi mandat sebagai pemimpin lembaga, termasuk lembaga PSSI. Padahal, dalam keluarga Achmad Bakrie, hanya Nirwan Bakrie yang dinilai sebagai anak jenius dan sangat brilian jika diserahi masalah bisnis. Dan, hanya Nirwan Bakrie yang benar-benar punya gaya pertemanan yang luar biasa. Bahkan, dengan orang yang tak dikenal pun, Nirwan tidak sungkan-sungkan merogok goceknya. Pantas, kalau orang tuanya memberi nama belakang, DERMAWAN, ya dia memang seorang yang rendah hati dan suka menolong siapa pun.
Ada teman-temannya yang sering nyeletuk dalam menilai Nirwan Bakrie. Bahwa, kalau ada salah satu temennya Nirwan itu adalah setan, tetap saja sebagai temannya sampai kapan pun. Dia memang pantas punya gaya pertemanan yang super langgeng. Walaupun, dari sifat-sifatnya yang baik itu, justru menghasilkan sistem perkawanan yang dibangun, sering dimanfaatkan dengan semana-mena oleh kawan-kawan dekatnya.
Saya pikir, Nirwan Bakrie perlu diperhitungkan kembali menjadi salah satu kandidat, walaupun perlu diberi warning-warning, bahwa dalam membangun sepak bola, diperlukan keseriusan, dan diperlukan orang-orang yang berbakat dan kreatif di dalam struktur. Mungkin, sosok Joko Driyono, yang kini menjadi CEO BLI bisa dijadikan tandemnya Nirwan Bakrie. Karena, Joko Driyono bisa menterjemahkan semua keinginan Nirwan Bakrie dalam membangun sepak bola modern. Sedangkan pengurus yang lainnya, lebih bagus disarankan oleh Nirwan, segera minggir saja dari PSSI agar sifat perkawanan tetap terjaga, ya diberi lahan baru di luar sepak bola. Toh, mereka kawan-kawan Nirwan itu, juga punya keahlihan di luar sepak bola.
Semua kandidat-kandidat calon pengganti Nurdin Halid ini, sepertinya masih bisa dijadikan perdebatan panjang bagi penggila bola ataupun pencinta bola di Tanah Air tercinta republik kita ini. Dan, juga bisa dijadikan alternatif referensi bagi panitia KONGRES sepak bola Indonesia, agar segera mempersiapkan calon-calon pengganti dengan serius, seperti keseriusan menggusur Nurdin Halid. Selamat serius kawan-kawan!
Erwiyantoro
Pencinta sepak bola Indonesia
Related posts:
- Agum Tolak Gantikan Nurdin Halid Mantan Ketua Umum PSSI sekaligus Ketua Panitia Kongres Sepak...
- Jusuf Rizal Siap Gantikan Nurdin Halid Mantan Direktur Pembinaan Usia Muda dan Promosi PSSI, Jusuf...
- KSN Mandul, Pemakzulan Nurdin Halid Gagal Kongres Sepak Bola Nasional (KSN) mandul. Upaya pemakzulan Ketua...
- Nurdin Halid: PSSI Berhasil Mempertahankan Martabatnya Kongres Sepak Bola Nasional (KSN) yang digelar di Malang...
- Apresiasi Nurdin Halid untuk Arema Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, memberikan apresiasi tinggi kepada...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.





[...] This post was mentioned on Twitter by suporter indonesia, Ultras PersijA, susi ivvaty, AgusSuwastikaWardana, Zulham Ertanto and others. Zulham Ertanto said: Siapa Pantas Gantikan Nurdin Halid? http://shar.es/mgiHt [...]