
Kita tentu mengetahui, bahwa kota Bandung merupakan kota film di Indonesia. Apalagi pada tahun 1926, di kota ini, dibuat film Indonesia pertama yang berjudul Lutung Kasarung yang disutradarai oleh G. Krugers dan L. Heuveldorp dengan dukungan Bupati Bandung saat itu R.A.A. Wiranatakusumah V.
Kemudian setelah itu, berbagai judul film dengan latar belakang kehidupan daerah Bandung mulai bermunculan. Misalnya Karena Daster (1961), Toha Pahlawan Bandung Selatan, Anak-anak Revolusi (1964), Tikungan Maut , (1966), Mereka Kembali” (1972), Mat Peci Pembunuh Berdarah Dingin (1978), Sekuel film Kabayan (90-an), Eulis Acih, Bunga Ros dari Cikembang, Ciung Wanara, Air Mata Mengalir di Citarum, Rampok Preanger, Si Kabayan dll.
Bandung juga merupakan kota dengan jumlah bioskop yang cukup banyak. Ini menandakan bahwa apreasi warga Bandung terhadap film sangatlah tinggi.
Dua bioskop semi permanent pertama berdiri di alun-alun Bandung pada tahun 1907. Dua bioskop tersebut adalah ‘De Crown Bioscoop’ milik seorang bernama Helant dan ‘Oranje Electro Bioscoop’ milik Michel. Kemudian muncul beberapa bioskop permanent, seperti Elita Biograph, Varia Park, dan Oriental Show di Alun-alun Timur; Alhambra Bioscoop di Kompa-Suniaraja; Orion Bioscoop di Kebonjati; Vogelpoel Bioscoop di Braga-Naripan; serta Deca Bioscoop yang bertempat tepat di belakang kantor pos pusat, Banceuy. Pada pertengahan 1920-an, di Braga yang saat itu merupakan pemusatan hiburan kalangan Eropa, dibangun Concordia Bioscoop (populer sebagai Majestic Theater), bioskop elite berstandardisasi Eropa. Di era film bersuara pada 1930-an, di kawasan Pecinan muncul Roxy Theater, Oranje Bioscoop, dan Oranje Park. Sementara di wilayah timur muncul Rivoli Theater di Kosambi dan Liberty Bioscoop di Cicadas.
Adalah Gravin de Réthy, seorang bangsawan Belgia yang berkunjung ke kota ini pada 1930-an sempat bertutur, ‘Zoo’n welverzorgd theater moest Brussel hebben’ (Bioskop-bioskop seperti ini sepantasnya ada di Brussel). Komentar Gravin de Réthy menggambarkan bahwa kemajuan bioskop-bioskop di Bandung paling tidak telah menyentuh standar kualitas bioskop di kota-kota besar dunia, seperti Brussel.
Kegemerlapan gedung-gedung bioskop Elita Concern, berimbang dengan animo masyarakat Bandung. Pada masa Hindia Belanda dulu, bioskop dan ‘feesterrein’ di Bandung tidak pernah sepi pengunjung. Pada akhir pekan bahkan orang harus berebut agar tidak kehabisan karcis.
Sejarah diatas menggambarkan, bahwa warga Bandung jaman dahulu sangat mengapresiasi film, baik film dalam negeri maupun luar negeri.
Kemudian, ketika keppres no. 25 tanggal 29 Maret 1999 ditandatangani, BJ Habibie menetapkan tanggal 30 Maret sebagai Hari Perfilman Nasional, kota Bandung benar-benar diakui sebagai kota yang penting dalam perjalanan sejarah perfilman Indonesia.
Salah satu pertimbangan para tokoh perfilman yang mengusulkan tanggal 30 Maret sebagai Hari Film Nasional sebab pada tanggal 30 Maret 1950, untuk pertama kalinya dibuat film Indonesia yang semuanya dibuat oleh warga pribumi juga diproduksi oleh perusahaan film pribumi. Film tersebut berjudul “Darah dan Doa”, yang mengungkapkan hijrahnya pasukan Siliwangi. Film ini disutradai oleh Usmar Ismail.
Bandung benar-benar menjadi kiblat perfilman nasional. Alasannya, Bandung mempunyai suatu festival film tahunan yang bernama Festival Film Bandung (FFB). Festival ini diselenggarakan sejak tahun 1987 dan terus berlangsung setiap tahunnya samapi sekarang. Hebatnya, jika Festival Film Indonesia pernah mati suri di era tahun 90-an. Festival ini tetap eksis.
Tulisan di atas mencerminkan bahwa kota Bandung memiliki tempat dalam dalam sejarah perfilman Indonesia. Baik sebagai kota pembuat, penikmat, maupun sebagai pengkritik film.
Romeo Juliet
Kemarin, saya membaca adanya pemboikotan film Romeo Juliet (Romjul) versi Indonesia oleh salah satu organisasi bobotoh Persib Bandung. Tak perlu saya jelaskan bagaimana isi film tersebut, akan tetapi pemboikotan tersebut menimbulkan pertanyaan bagi saya, kenapa ?
Saya merasa pemboikotan tersebut tidak berada dalam koridornya. Bagaimanapun, film adalah sebuah karya sastra dengan film sebagai medianya.
Pemboikotan, menurut saya adalah salah satu bentuk dari posmodernis radikal yang menilai suatu Karya sastra dengan kriteria dan penilaian dan standar kualitas sendiri. Hal ini akan menimbulkan eksklusivitas kebudayaan, dimana suatu kelompok berusaha menolak hasil karya kebudayaan kelompok lainnya. Maka menurut budayawan Yasraf Amir Piliang, dosen ITB, dialog merupakan metode yang cocok untuk mencegah eksklusivitas kebudayaan. Dialog ini menuntut keterbukaan dan inklusivitas, bukan sastra prasangka dan eksklusivitas (Yasraf Amir Piliang, Sastra dan E(ste)tika Massa, Pikiran Rakyat).
Salah satu metode untuk mencegah terjadinya eksklusivitas kebudayaan ini adalah dengan jalan kritik. Suatu karya bisa ditelaah kemudian dikritik dengan berbagai pendekatan yang ilmiah.
Dalam kasus film Romjul ini, kelompok bobotoh tersebut seharusnya bertindak lebih beradab, bermartabat, dan tidak berprasangka buruk. Misalnya salah satu dari mereka ada yang bisa mengkritik film ini dengan membuat suatu artikel di Koran dan internet, supaya orang sedunia bisa membaca dan mengerti, bukan malah mengadakan pemboikotan yang malah memperjelas stigma masyarakat Bandung bahwa mereka adalah kelompok eksklusive, radikal, tak beradab, tak berpendidikan, dan bahkan sampah di kota Bandung.
Bandung, dari dahulu merupakan kota film Indonesia. Tak selayaknya satu kelompok masyarakatnya, mencari muka dengan melakukan pemboikotan terhadap satu film, tanpa alasan yang jelas dan ilmiah.
Jika ini masalah harga diri, masalah menang kalah, maka saya menunggu film ini ditayangkan oleh salah satu TV swasta. Saat itu, pemboikotan adalah hal yang mustahil. Saat itu, film Romjul akan masuk ke setiap rumah di Bandung, tanpa bisa dicegah. Saat itu, semua elemen masyarakat bisa menikmati film tersebut gratis. Saat itu, siapa yang akan tersenyum terakhir ? Menikmati kemenangan …
Penulis : Hevi Fauzan
dicari dengan kata kunci
- perbedaan bobotoh dan viking
- nama tokoh romeo dan juliet
- nama artis romeo dan juiet
- nama panjang romeo
- nama tokoh pemain film romeo dan juliet
- pemain romeo dan juliet
- artikel realita kebudayaan
- perbedaan viking-bobotoh
- romeo juliet asli
- sejarah romeo dan juliet
- tokoh romeo and juliet viking the jack
- viking adalah dan bobotoh adalah bedanya
- nama panjang Juliet dan Romeo
- nama asli pemain romeo&julit indonesia
- nama artis romeo juliet viking vs the jack
Related posts:
- Kodam Siliwangi-Polda Jabar Siap Damaikan Bobotoh-Jack Mania Kodam III Siliwangi dan Polda Jabar akan damaikan dua...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.


iya nih jadi penasaran ama film Romjul, di badnung ga ditayangin..
hiks.,.
mampus gille…film’a krenz beud….tp syg ggu jg rada ktakutan pas nnton ntu film cz fanatik & anarkis beud ?


tp saluut dech ma crita cinta’a romeo & juliet….
so sweet beud..
[quote]
bukan malah mengadakan pemboikotan yang malah memperjelas stigma masyarakat Bandung bahwa mereka adalah kelompok eksklusive, radikal, tak beradab, tak berpendidikan, dan bahkan sampah di kota Bandung.
[/quote]
Anda sendiri menilai bobotoh tanpa alasan, data dan tidak secara ilmiah.
[quote]
Saat itu, siapa yang akan tersenyum terakhir ? Menikmati kemenangan …
[/quote]
nah ini juga, kalimat sebelumnya mengatakan “ini bukan masalah menang dan kalah”, tapi anda sendiri menentukan untuk menikmati kemenangan..
Buat bobotoh (terutama organisasi yang anda maksud) bukan masalah ekslusivitas kebudayaan (ga ada hubungannya sama sekali dengan kebudayaan), Anda sendiri tidak tahu knp organisasi bobotoh tersebut memboikot?? beberapa alasan buat saya sebagai salah satu anggota kelompok tersebut (mungkin buat yang lain masih ada) :
1. si ucup sendiri ga pernah berdiskusi dengan kami.
2. Nama organisasi yang di bawa di film adalah asli, walaupun film tersebut disebutkan fiksi tetapi tetap saja akan ada imbasnya terhadap nama organisasi yang di bawa (the jack dan viking), baik itu imbas yang baik atau yang buruk. liat film green street!! ada ga nama organisasi suporter di bawa2?? ada ga seragam atau baju organisasi suporter di bawa2 ke film???
3. si ucup sendiri belum pernah mengadakan penelitian langsung ke lapangan mengenai kehidupan sehari2 dari kedua organisasi yang di bawa di film (jelas ini sendiri tidak ilmiah).
4. si ucup sendiri se akan2 merendahkan dan tidak menghargai KAMI dengan membeli baju bajakan di pinggir jalan untuk di pakai di film tersebut, masa sih ga kebeli???
5. Intinya si ucup itu belum ada izin dari pihak yang di bawa ke film tapi sudah buat film.
jadi itu beberapa alasan buat saya (SEKALI LAGI : ga tau bagi temen saya yang lain, mungkin masih banyak). Jadi menurut saya sudah sewajarnya klo film itu di BOIKOT!!!
1. si ucup sendiri ga pernah berdiskusi dengan kami.
2. Nama organisasi yang di bawa di film adalah asli, walaupun film tersebut disebutkan fiksi tetapi tetap saja akan ada imbasnya terhadap nama organisasi yang di bawa (the jack dan viking), baik itu imbas yang baik atau yang buruk. liat film green street!! ada ga nama organisasi suporter di bawa2?? ada ga seragam atau baju organisasi suporter di bawa2 ke film???
3. si ucup sendiri belum pernah mengadakan penelitian langsung ke lapangan mengenai kehidupan sehari2 dari kedua organisasi yang di bawa di film (jelas ini sendiri tidak ilmiah).
4. si ucup sendiri se akan2 merendahkan dan tidak menghargai KAMI dengan membeli baju bajakan di pinggir jalan untuk di pakai di film tersebut, masa sih ga kebeli???
5. Intinya si ucup itu belum ada izin dari pihak yang di bawa ke film tapi sudah buat film.
iya sih.. kayanya emg mending ga pake nama asli persib viking ama persija the jak. ganti aja apa gitu.. kan damai aman boi.. toh orang2 yg nonton juga bakal ngerti maksudnya.. kalo realita realita semuanya, kalo fiksi fiksi semua.. kecuali yg ga ngerti sepakbola kaya gue dan cuma ngeliat cowok2 cakepnya doang..
film realita, nama asli, harus memeluk lebih mesra ybs2..
aku mu nonton pelmnya ucup di blitz GrandI tapi paling malem jam 17. ada di tim ama metropole, tapi tu bioskop2 tuh suaranya amit2, bikin pengang..
jadi paling ntar senen..
sbg org bandung, sayah baru bakal ngasih sumpah serapah ato muji ntar, abis nonton. yuk ahh.. pis yo pis yo.. emosional cuma hak cewek, cowok jangan.. gak seksi..
NG´s last blog post..
1. kami yang anda maksud siapa??? sedangkan heru joko saja pernah diajak berdikusi dengan ucup??? anda siapa??? mengapa anda diajak berdiskusi?? anda mewakili siapa???
2. namanya juga realitas bro…..
jadi ini film realitas ato film fiksi??? ga konsisten nih, di forum facebook sendiri ucup bilang ini fiksi, nah lo bilang disini realitas…mana yang bener nih???? klo emang realitas ga pernah ada tuh anak the jack yang suka sama lady vikers seperti yang diceritain di film ini.
3.kata siapa?? saya mengenal ucup denagn baik…. dan saya yakin kesuporteran ucup jauh lebih besar di banding dengan anda…
Ya anda cuman mengenal dengan baik aja, tapi ga tau kan ucup pernah meneliti kehidupan anak viking sehari2 atau ga, saya sendiri di viking ga pernah liat dia datang untuk meneliti sebelum membuat film ini… klo dari nama sih iya dia lebih besar dari saya, tapi soal kesuperteran apalagi untuk persib, sory yah klo saya bilang TIDAK…..
4. ah… anda terlalu materealistis……. jangan salahkan ucup kalau baju nya di beli. salahkan yang jual kenapa beli bajakan
Apakah ucup sendiri tidak materialistis dengan membuat film ini??niat dia sendiri untung uang ko buat film, dianya sendiri ga menghargai viking dengan membeli yang bajakan trus knp viking harus menghargai dia???? klo emang kaya gitu knp artis pada marah yah klo kaset atau cd nya di bajak??? trus ucup marah ga yah klo film nya di bajak???
5. belum mendapat ijin???? lalu kenapa???? tonton dulu brur baru berkomentar…
ko kenapa???? klo kaya gini namanya sepakat untuk musyawarah bro, sepakat dulu (tentunya dia dan tim nya) untuk buat film ini, udah jadi trus minta di tonton biar laku trus baru musyawarah (diskusi), orang indonesia bukan nih?????? ah…anda kaya bukan orang indonesia aja ga tau yang kaya gini….ya saya tinggal balik nanya aja, kenapa juga saya harus nonton film ini??????? 
oh iya satu lagi….
kayaknya judulnya juga ga nyambung deh…
ini bukan masalah ekskusivitas dan bukan masalah kebudayaan deh, baru satu kali seperti ini ko di bilang kebudayaan sih?????
ya sudahlah…. gak ada gunanya saya berdebat dengan orang yang “tidak pantas” diajak berdebat… ada semacam gap diantara kita…. saya membela ucup bukan karena saya temen dia akan tetapi saya lebih ke personal yang menghargai adanya sebuah fanatisme dalam arti luas…
dan kalaupun anda tidak setuju dengan film romeo juliet… ya itu hak anda.. saya tidak pernah memaksa…
ya sudah, memang saya juga berdebat dengan orang yang salah…yang bukan siapa2 di film ini…
Good question from “e-je” , knapa saya harus nonton film ini???
thx
ah saya sudah menontonnya. bagus sih, dahsyat, beda ama pelm indonesa yg dah ada.
dan terakhirnya juga saya cukup menahan tangis haru seperti temen laki disebelah saya yang badannya sangar..
emang sih, NG bukan penggemar sepak bola..ngerti juga kagak..tapi soal fanatisme dan cinta kan universal..
pas nonton sampe akhir, emg oke banget sih.. tapi kok gw ngerasa ada unsur yang kurang.. sampe2 emosi kurang gitu masuk ama para tokoh2nya..bahkan pada waktu mereka bercinta quickie.
dan akirnya gw bisa nyimpulin, unsur yg kurang:
‘obyek yang digilai para suporter itu.’
kenapa mereka cinta persib, ato persija. dan seberapa pengetahuan mereka soal persib persija, bukannya shakespeare.. soal pemain2 andalan yang hebat sehingga patut dijagokan oleh para suporter, dan semua ttg dua klub hebat itu deh..
mungkin buat pengikut setia sepakbola, itu ga masalah. tapi tu film kan buat umum.. banyak yg ga ngerti sepakbola sama sekali..kaya gue..
secara umum sih semua oke bangs!! tinggal dimasukkin secuplik dua adegan jagoan2 persib sijanya ato sepatah tiga kalimat pengetahuan mereka ttg dua klub itu sendiri..
akirnya jadi kosong nih pengetahuan..
yauda dah.. sipsipsip…
maju terus bos
jangan melukai hati masyarakat jawa barat dengan film yang tak berimbang ini
woi orang ga bpndidikan……..
sok”an lu mau boikot film org……….
kya bs bkin film sndri az u…..
wah emang sulit kalo ngehadepin org yg bebal gk mau terima, simaklah kata pepetah ulama ini:
“an-naa a’daa-u maa jahiluu”
manusia adalah musuh bagi apa yg tidak (tidak mau) diketahuinya.
ini adalah suatu fakta di mana kita memang terpaksa harus menakui kebebalan mereka.
dmna sich nuntun d bandung
CUrnk,,,,bala na kurank,,,,

main duit aja
Saya rasa E-JE SAYS ada benarnya juga…
Beberapa pesan aja buat bang.Ucup:
1. Sebelum bertindak (buat film ke, ngobrol ke, atw apa lah…) coba anda pikirkan dulu sebab-akibatnya, jangan cuma memikirkan untung-ruginya saja.
2. Coba untuk memikirkan perasaan semua orang dengan cara mengglobal, coz setiap orang kan cara berpikirnya berbeda-beda. (bagaimana perasaan anda jika menjadi penonton? bgaimana jika anda menjadi aktor/aktrisnya? bagaimana perasaan anda jika menjadi seorang Heru Joko? bagaimana jika anda menjadi Jackmania? bagaimana jika anda menjadi Viking? bagaimana jika anda menjadi pemain bolanya? bagaimana jika anda menjadi seorang ibu rumah tangga atau anak kecil? dan apakah anda pernah berpikir bagaimana jika seseorang nanti membuat film tentang “Kehidupan pribadi anda yang identiknya banyak menunjukkan aib pribadi anda”?? anda pun pasti malu, kesal, ingin marah dan menuntut, dll…
Yah… saya tahu,… Maksud anda mungkin baik, tapi mungkin cara penyampaiannya salah sehingga orang lain yg tidak mengerti apa2 dengan yang anda maksud menjadi salah tanggap!!! Saya dan semua orang pun tahu bahwa anda orang yang sangat berpendidikan, coz klo anda ngga berpendidikan mana mungkin bisa membuat film seextrim & sehebat itu, tapi yang namanya penonton kan tingkatan pemikiran dan pendidikannya berbeda-beda dan ngga seperti anda, & mungkin lebih banyak orang awamnya ketimbang yang berpendidikannya…
Sukses terus buat bang.Ucup, buat terus karya yang lebih baik dari itu… Dan buatlah Indonesia menjadi bangga..!!!
sebenernya males gw komentar hal yg udah basi dan bikin idup gw seolah brenti ngurusin film fiksi pertama gw.
gw sadar supporter sifatnya selalu cair jadi kalo gw ktemu si anu, si anu yg laen minta ditemuin, semua udah ditemuin ada aja masalahnya…intinya SEMUA MINTA DIPERMISIIN! rasanya ribuan viking terlalu banyak buat satu persatu gw salamin, cukup 2 pentolannya aja yg selalu blg kalo mrklah yg berhak mewakili viking.
well, seperti kata org gila yg invest di project ini “Supporter bukan pasar yg bagus, mrk tidak dewasa dan tidak bisa menerima perbedaan…mrk gak ada bedanya sama ustadz yg ribut2 tanpa mau tau pokok permasalahannya, dan kita gak akan punya waktu buat urus semua komplen itu,” gw terpaksa sepakat walau gw selalu bela kalian2 yg slalu mengatasnamakan fanatisme, harga diri, eksistensi dllsb……tapi itulah sepakbola, lbh hebat dari hidup. jd gw sadar kalo kalian trus bisanya marah2….kalian dibesarkan oleh rezim yg dikit2 membredel dan memberangus….kalian gak sadar kalo kalian punya hak jawab. tulisan dibalas tulisan, karya dibalas karya dllsb
saat ini gw gak akan bisa lagi bikin sesuatu ttg kalian supporter2 indonesia karena seperti 6 tahun lalu pas gw mau bikin ttg fanatisme sepakbola indonesia….gw masih aja gagal membuktikan bahwa kalian punya otak dan rasional.
setelah 2 acara coca cola diisi perkelahian, 3 film gw berturut2 terus dicekal sekelompok preman yg ngaku supporter…rasanya cuma org gak punya otak dan imbecile aja yg masih mau bayarin gw bikin sesuatu yg berhubungan tentang supporter….
jadi inget kata ijul pas dia larang gw 3 minggu sebelum syuting (gw terjemahkan ke bhs indonesia biar semua ngerti) “cup, brapa sih duit yg udah dikeluarin? gw bisa mintain 500 jt sekarang jg ke kang dada,” jadi kang ijul, buktiin bacot besar lo dan bikinlah karya yg bener, bukan yg berpihak
akhirnya anda mendapat pelajaran kan bung ucup, jadi untuk kedepan alangkah baiknya anda tidak perlu membuat film yg “senasional” seperti ini lagi. sekedar saran sih.
kelompok supporter bukan sesuautu yang anda bisa ajak diskusi, bukan sesuatu yang bisa anda ajak berpikir tentang esensial dari sebuah karya seni, bukan sesuatu yang anda bisa eksploitasi dengan mudah sesuai dengan sense of art anda, cara berpikir mereka hanya akan jalan dengan baik bila di lapangan, mendukung tim mereka, bukan untuk diskusi akademis akan masalah esensi seni apalagi urusan estetika masa.
permainan yang anda pilih ini sensitif sekali, namun saya puji anda punya keberanian yang besar karena ada niat untuk membuat film dengan sensitifitas luar biasa besar seperti ini. jadi kembali lagi, anda sudah belajar sekarang, tidaklah usah membuat film seperti ini lagi.
hidup persib!
“tak ada kata mati buat persib,tak ada kata menyerah buat bobotoh persib sekalipun bobotoh persib perang darah persib akan terus maju,
PERSETAN APA YANG DI KATA KAN THEJACK KAMI HANYA ANGGAP ANGIN LALU”
DAN KAMI ANGGAP SEMUA ITU HANYA OMONGGAN DARI MULUT* BER BAU MULUT TAI ORANGE …..
BUAT MACAN KEMAYORAN KAMI ANGGAP SEMUA ITU MACAN OMPONG….
persikabo menang lagi hati ku senang .smg persikabo masuk ISL amin………………….