CATATAN SEPAK BOLA
Martin Luther King Jr sempat memesona dunia karena pidatonya, I have a dream. Pidato yang diucapkannya di depan 250.000 orang di Lincoln Memorial Washington pada Agustus 1963 itu berisi impiannya: bahwa akan datang saatnya warga negro di Amerika akan mempunyai hak yang sama dengan warga kulit putih.
Pidato itu mengesankan banyak manusia, termasuk seorang anak gadis Jerman bernama Margot Käsmann. Dari Martin Luther King, Margot belajar bahwa iman ternyata bisa menjadi sumber perjuangan politik. Itulah sebabnya ia kemudian memutuskan belajar teologi dan meniti kariernya dengan menjadi pendeta di lingkungan gereja Protestan.
Tahun 1999, Margot diangkat menjadi uskup (perempuan) di gereja Lutheran wilayah Hannover. Tahun 2009, ia dipilih menjadi Ketua Evangelische Kirche in Deutzschland (EKD), lembaga yang memayungi gereja-gereja Protestan di Jerman. Inilah pertama kalinya seorang perempuan menduduki kursi tertinggi EKD, yang memimpin sekitar 25 juta orang Protestan di Jerman.
Margot Käsmann (51) adalah pemimpin yang tegas dan berkarakter. Di bawah kepemimpinannya, gereja-gereja Protestan segera memperoleh kembali reputasinya. Tak henti-hentinya ia mengajak jemaatnya untuk berani bermimpi bahwa suatu saat keadilan, kedamaian, dan kelestarian lingkungan akan benar-benar terwujud.
Agar tidak tinggal sebagai impian, cita-cita itu harus dilaksanakan dalam hidup keseharian. Ia memberi contoh: rata-rata orang Jerman menghabiskan 220 menit menonton televisi setiap hari. Alangkah indahnya jika mereka mau memberikan waktu 20 menit saja setiap hari untuk tetangganya yang sudah lanjut usia atau yang membutuhkan pertolongannya.
Tak ada yang mengira bahwa Margot akan mengalami mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Toh, hal itu terjadi. Sabtu, 20 Februari, pukul 23.00 waktu lokal, Margot mengemudikan mobil VW-nya dan kedapatan melanggar lampu merah di jalanan kota Hannover.
Polisi lalu lintas segera memeriksanya dan mendapati Margot mengemudikan kendaraan di bawah pengaruh alkohol yang kadarnya di atas ukuran yang diperbolehkan. Margot terancam hukuman denda uang dan larangan mengemudi setahun lamanya.
Keesokan harinya, media Jerman heboh dengan berita pelanggaran lalu lintas oleh pemimpin tertinggi gereja-gereja Protestan itu. Margot mengakui kesalahannya. Dua hari setelah pengakuan itu, orang dikejutkan oleh berita ini: ”Margot Kässmann menyatakan bahwa ia mengundurkan diri sebagai Ketua Gereja-gereja Protestan di Jerman.”
Di depan pers ia mengumumkan, ”Saya telah membuat kesalahan. Betapa pun saya menyesalinya dan betapa pun saya menerima tuduhan yang memang selayaknya dituduhkan kepada saya, saya tidak bisa mengabaikan bahwa jabatan dan otoritas saya sebagai uskup dan Ketua EKD akan dirugikan oleh perbuatan saya ini.”
Katanya lagi, setelah kesalahannya itu, kiranya pada masa depan ia tidak lagi memiliki kebebasan, yang berpeluang untuk menilai dan menuntutkan tuntutan-tuntutan etis ataupun politis, seperti yang dipunyainya pada masa lalu. Hanya integritas personal yang mantap dan tak terbatasi oleh apa pun layak untuk menilai dan menuntutkan sesuatu.
Ia menegaskan, pengunduran dirinya bukan hanya karena ia amat menghargai jabatan, tetapi juga karena respek dan penghargaan terhadap diri sendiri, serta karena kejujuran dan ketulusan adalah sesuatu yang amat berarti baginya.
Pengunduran dirinya adalah suatu kehilangan bagi gereja Protestan di Jerman. Banyak orang menyayangkan pengunduran diri itu. Toh, hampir semua memuji bahwa pengunduran diri itu adalah konsekuensi dari kejujurannya. Itu membuktikan bahwa sampai akhir, juga setelah ia mengaku berbuat salah, ia adalah pribadi yang mempunyai integritas moral.
Perkara yang kelihatan sepele dan sebenarnya amat mudah dimaafkan itu ternyata bisa membuat orang mengundurkan diri dari jabatan yang begitu penting. Alasannya, bukan hanya karena menghormati jabatan, tetapi juga karena ia ingin menghormati kejujuran dan integritasnya sendiri.
Hal terakhir inilah yang tampaknya tidak dipunyai pejabat- pejabat publik kita. Contoh paling mencolok untuk ini adalah Ketua Umum PSSI Nurdin Halid.
Di bawah kepemimpinan Nurdin Halid, prestasi PSSI jelas-jelas jeblok. Pertama kali dalam 13 tahun terakhir timnas sepak bola Indonesia gagal lolos ke Piala Asia. Timnas juga tersingkir di penyisihan grup dalam dua SEA Games terakhir. Timnas U-19 gagal pula lolos ke Piala Asia. Belum lagi kasus mafia wasit dan kerusuhan suporter yang tak ada habisnya.
Waktu Ketua Umum PSSI itu dipenjara karena kasus penyaluran minyak goreng, seruan agar ia mundur terdengar di mana-mana. Sekarang, sampai Selasa (2/3), di Facebook telah tercapai 37.800 suara yang menuntut ia mundur. Toh, ia dan stafnya tetap stubborn, alias keras kepala.
Tampaknya, Kongres Masyarakat Sepak Bola Nasional di Malang, 30-31 Maret, perlu membahas tidak hanya prestasi, tetapi juga persoalan moral yang sedang diidap pimpinan PSSI sekarang. Jangan-jangan pimpinan PSSI sekarang sudah tidak lagi dapat menghormati baik jabatannya maupun kejujuran dan integritasnya sendiri. Apabila demikian, kongres di Malang nanti kiranya harus sampai pada rekomendasi definitif: Nurdin Halid harus mundur.
Bagaimana mungkin sepak bola kita akan maju jika dipimpin oleh orang yang diragukan integritas moralnya dan tidak mempunyai respek terhadap ketulusan dan kejujurannya sendiri?
SINDHUNATA, Wartawan, Tinggal di Yogyakarta
__________________
Sumber: KOMPAS, Kamis, 4 Februari 2010
Related posts:
- Pemain-pemain Bola yang Bunuh Diri ADA pelajaran penting di balik kematian kiper Jerman, Robert...
- Nadzar merangkak sejauh 3,5 km sudah berhasil saya penuhi Puji syukur kehadirt Allah S.W.T Yang mana telah memberi...
- Garuda Sudah Kalah. Garuda Kapan Bangun? “GARUDA HARUS BANGUN…GARUDA BELUM KALAH…MASIH MAIN LAGI…MASIH MAIN LAGI…”...
- Bola Itu Tidak Lagi Bundar “Lihat….bola ini bundar, jika saya lempar kearah Anda maka...
- WABUP SLEMAN TEMUI WALIKOTA ; PSS – PSIM Tak Ada Masalah YOGYA (KR) – Wakil Bupati Sleman Sri Purnomo dan...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

